Gue suka baca buku motivasi sejenis Terapi Berpikir Positif-nya Dr. Ibrahim Elfiky. Kecuali seminggu terakhir ini, gue sedang concern menyelesaikan membaca sebuah novel girl series menye2 yg iseng gue beli weekend lalu demi men”cuci otak” yg belakangan gw anggap sedikit kurang rileks. Haha
Novel sekuel iva avianty itu lumayan juga buat hiburan, tp fokus gw kali ini adalah bukan ngomongin itu novel. Berkaitan dg teori2 yg didengungkan para motivator seperti penulis buku The Secret, yg mengusung The Law of Attractionnya, yah gw selalu kepikiran kalo emg kita ini sedikit banyak mmg punya hubungan magnetik dg some or all kejadian. Hal ini bukan serta merta apa yg kita pikirkan selalu seketika menjadi kenyataan, melainkan gue lebih condong ke ajaran Muslim yg menyebutkan bahwa Tuhan sesuai persangkaan hamba-Nya. Hal ini gue inget bgt sejak SMA waktu seorang kakak mentor gue nyeritain kisah temennya yg lagi ujian gitu d kampusnya, dan selama ujian dia kepikiran sama sepeda-nya yang ia tinggal di parkiran tanpa dikunci, selama ujian ia hanya berpikir ttg sepeda, sepeda, dan hilang. Malangnya, setelah ujian selesai, segera ia mengecek keberadaan sepedanya dan benar, hilang.
Magic? Engga menurut gue.
Sebenarnya ucapan, pikiran, atau niat kita apapun itu bentuknyalah, yang mendorong kita dalam mewujudkan sikap menuju perealisasian niat atau pikiran tersebut. Gw ga maksa buat pembaca untuk percaya. Ini soal keyakinan.
Dan gue, sedang berusaha menumbuhkan nyali untuk mempertahankan keyakinan gue. Bahwa gue mampu menyelesaikan apa-apa yang selama ini (hampir semua) gue anggap impossible.
Contoh kecil hari ini,
Gue menghabiskan hampir 1 siklus waktu kerja gue untuk chatting dengan sebut saja sahabat lama gue (:p) yg berdomisili di Balikpapan dengan kewajiban pelaksanaan tugas dalam lingkup instansi yang sama yakni menyelesaikan sebuah laporan pelaksanaan kegiatan dengan aplikasi yang ternasionalisasi seragam.
Gue yg lumayan baru (pembelaan) menjadi person in charge tugas tersebut sudah pasti menjadi bawel seketika alias tanya2 terus sama si sahabat tadi.
Gue (G) : Bril. tanya dong
Shbt (S) : ya
(G) : parameter pas mau cetak form ‘bla bla bla’ itu apa ya. kok ga bisa
(S) : hah? Parameter apa
(G) : ini… bla bla bla
(S) : itu kan bla bla bla….
(G) : bla bla bla
(S) : bla bla blaaa
(G) : (aduuh pokoknya pembicaraan panjang seharian, harusnya gw telpon aja kali ya. dasar) tapi si (S) emang sibuk jd banyak selingannya
Skip skip skip
Akhirnyaaaaaaaaaa
(G) : nah kok kosong yah?. oooooooooooooh. aku kan blm masukin trn. berarti tinggal masukin trn aja lgsg jadi yaaaaaaaah?. gitu???????? tinggal kendala aja? eaaa??
(S) : iyaaaaa… hahaha
sehubungan dg pembicaraan panjang tersebut, hampir aja gue mengakhiri conversation dg ngomong gini ke dia (yg biasanya emg gw praktekkan dalam pembicaraan2 lainnya)…… “huaaaaaa……….. gitu doang ya. Lama banget gue mikirnya. Harusnya gw minum pharmaton f*rmula kali yaaaaaaa”
ga jadi.
Iya gue ngancel (meng-cancel) ngomong begitu. Kenapa?
Itu bener2 kalimat yg NGGAK bijak buat gue sendiri. Kalo berlarut2, unconsciously, gw pasti keep thinking that I COULDN’T finish everything and I do need that kinda drugs.
overall, gue selayaknya bilang : yeah, gue bisa. that’s it.




